Obsesi Islam Merebut Identitas Global

Posted: Mei 19, 2010 in Tsaqofah
Tag:

Obsesi Islam Merebut Identitas Global

Oleh : Lida Maulida

Hidup Mahasiswa, hidup Mahasiswa. Suara itu seakan-akan terus menggaung di seluruh penjuru kampus, dengan idealisme sebagai Mahasiswa yang selalu menjadi slogan abadi seolah begitu angkuh terdengar dan mewarnai suklus kehidupan kampus dari hari ke hari. Suasana politik kampus semakin memanas, para mahasiswa saling beraliansi berbondong-bondong merapatkan barisan meneriakan yang mereka sebut kebenaran versi mereka, sang birokratpun kepanasan sampai lama-kelamaan terbiasa dengan kondisi seperti itu. Akibatnya terjadi konflik horizontal antar mahasiswa, pergulatan antar kelompokpun tidak terelakan, di sisi kampus yang lain terjadi penistaan agama, “area bebas Tuhan” atau “Tuhan sudah mati”, kata-kata yang seakan risig untuk diperdengarkan, dengan apologi kebebasan berpikir, belum lagi ketidakadilan yang diterima para Mahasiswinya yang jadi korban pelecehan yang dilakukan dosennya sendiri, dan menurut data terpercaya setiap tahun selalu dipastikan akan ada korban, dan si pelaku setelah itu dapat berlenggang bebas dari hukuman, atau kasus penjualan nilai yang masih mengakar dan menjadi kultur yang sulit terpecahkan.
Lebih dalam lagi, kegiatan kemahasiswaan kurang di arahkan pada sector ilmuah-Religi, kebijakan birokrasi dari mutu penyelenggaraan pendidikan kurang diarahkan pada pencapaian prestasi, kebudayaan Islam kurang menonjol dalam kegiatan akademik formal-nonformal, kultur kajian dan riset disiplin ilmu keIslaman porsinya sangat kecil bahkan nyaris tidak ada.
Semua fenomena mengerikan itu terjadi disini, di kampus yang orang-orang mengakunya sebagai Universitas Islam, yang kemudian mampu membentuk kultur Islam disetiap titiknya, namun ternyata asumsi itu hanya sebuah mimpi untuk saat ini. Terlalu menggelikan dan ironis memang, namun kita pun tidak mungkin diam, kita sudah tidak mungkin lagi menungggu menyaksikan lingkaran setan ini melaju tertawa di atas rel yang aman, kita tidak mungkin lagi bisa nyaman dengan keimanan kita, kita tidak mungkin lagi nyaman dengna amal-amal ibadah kita sendiri, tapi kemudian tidak bergerak menuntaskan perubahan. Karena perubahan adalah keniscayaan.
Apa yang sebenarnya terjadi, siapa dalang dibalik semua ini?apakah ada scenario besar dalam kesesatan ini?sepertinya memang ada, ada kekuatan besar yang telah memporak-porandakan UIN sebagai Universitas Islam. Apabila kita analisis lebih jauh maka kita akan tahu bahwa semua itu terjadi ketika kemudian umat Islam sudah dijauhkan dengan Islam itu sendiri, dan salah satu factor tersebut adalah bahwa UIN sebagai Universitas yang beridentitas Islam tidak mampu mempertahankan diri dari gelombang globalisasi yang mahadahsyat dengan segala produk biadabnya, meremukan seluruh persendian umat Islam.
Mari kita analisis lebih jauh, apa yang dimaksud globalisasi dan apa yang dapat kita lakukan untuk membendung gelombang itu.
Globalisasi telah mencabut waktu dari ruang. Peristiwa yang terjadi di pojok bumi selatan bisa ditonton oleh masyarakat yang hidup di pojok bumi utara dalam waktu bersamaan. Ini menandakan bahwa ruang telah mengecil, tidak ada lagi jarak yang membatasi setiap ruang. Globalisasi, menyatukan ruang yang berserakan di bumi ini menjadi satu wilayah yang sempit, bahkan tak lagi berdinding.
Di sinilah titik rawan globalisasi. Globalisasi menciptakan ruang yang dapat membajak kesadaran masyarakat untuk menjadi masyarakat yang lain. Globalisasi bisa menjadi Amerikanisasi, dimana dominasi informasi dan film-film Amerika menguasai menu yang disuguhkan TV dan instrumen globalisasi lainnya. Maka nilai-nilai kebaikan dalam persepsi masyarakat Indonesia misalnya, adalah nilai-nilai kebaikan yang dikonstruksi oleh masyarakat Amerika. Dalam konteks situasi hegemonik seperti inilah pemuda Islam diharapkan dapat menumbuhkan keberagamaannya yang lebih membumi. Sejauh pengamatan saya, sebagian besar pemuda Islam, dan umat Islam umumnya, masih memperlakukan Islam sebagai lembaga yang mengatur tata cara pengabdian kepada Tuhan, sehingga nilai ibadah yang tetinggi dalam kacamata mereka adalah manakala melakukan ritualitas (baca: ibadah mahdoh) secara sempurna dengan aturan-aturan baku yang telah ditetapkan. Dengan begitu, Islam tidak dijadikan sebagai kekuatan pendorong untuk melakukan kritik sosial, justru terkesan dijauhkan dari problem sosial (baca: pembajakan kesadaran, konsumerisme, hedonisme, selebrisme, kedangkalan akidah, dst). Perjuangan Mahasiswa muslim harus menegaskan bahwa Islam yang berorientasi ritual, telah mengebiri ideologi emansipatorisnya.
Sejarah menceritakan bahwa sejak awal, perjuangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah melakukan emansipasi harkat manusia. Islam di awal pertumbuhannya, mendekonstruksi (baca: mengkritisi dan menolak) perbudakan yang saat itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan kata lain, nabi Muhammad mengajak manusia untuk kritis terhadap tatanan masyarakat yang telah ada dalam masyarakat. Dan itu bukan pekerjaan mudah, sebab beliau berada dalam masyarakat yang telah terhegemoni, yang kesadarannya telah dibajak oleh agama para leluhur. Pemuda Islam sejatinya mulai membaca kondisi objektif sosial yang diakibatkan globalisasi. Sederhananya dapat dikatakan bahwa kesalehan (baca: mengerjakan ibadah mahdoh) harus disertai dengan pembacaan konteks sosial sekarang. Kemudian, bersikap terhadapnya. Dengan begitu, keberagamaan yang bermakna ditemukan. Penggunaan hermeneutika sosial dan hermeneutika teks (baca: hermeneutika ibadah mahdoh) adalah pilarnya. Pengagungan kesalehan individual, yang membanggakan praktek ritual individu semata, tidaklah cukup untuk disebut sebagai pengikut rosulullah saw. Pengabaian terhadap problem dan dampak globalisasi yang menerpa umat manusia, adalah sikap yang tidak islami dan mengkhianati perjuangan suci rosul saw.
Perkembangan peran-peran gerakan Islam dalam perbaikan masyarakat, negara bahkan dunia semakin menuai hasil, terutama dalam pembentukan pandangan publik yang Islami.
Pembahasan ini tidak bermaksud merumitkan diri kita dalam berdialog dan mendiskusikan defenisi gerakan Islam, tapi ingin mencoba memahami sebuah tema penting yang kini sering didialogkan oleh banyak kalangan, yaitu globalisasi. Berbicara tentang globalisasi dan gerakan islam, yang terlintas dalam benak kita adalah pertama bisa jadi kesan pertentangan dan pertarungan, ada hitam dan ada putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Untuk itu, globalisasi dan varian-variannya masih menjadi tema yang terus didialogkan oleh berbagai kalangan. Karena itu juga, pembahasan berikut bisa menjadi ide sekaligus sebagai prespektif dialog yang mesti kita lanjutkan.

Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah peradaban Islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas Islam menyeru semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an,
”Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam”. (Qs. at Takwir:27)
Mencegah dari yang mungkar’ berarti berusaha memberantas kejahatan. Misalnya, pelarangan penjualan narkotika, pemberantasan korupsi dan lain-lain. Itu juga berarti liberasi dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik
Kemudian, apa yang mesti difokuskan oleh umat islam khususnya gerakan pemuda islam dalam menjemput impian itu? Kita mesti menyadari sebuah realita bahwa ada jarak yang terbentang jauh antara wacana pemikiran bahkan nilai islam dengan realitas umatnya, termasuk generasi mudanya. Sehingga semakin jauh jarak dan masih panjang waktu yang ditempuh umat ini sampai kepada takdir kejayaannya. Artinya, tesis yang mengatakan bahwa kemenangan merupakan hadiah yang pasti datang, akan terlambat bahkan tidak akan datang jika syarat takdirnya tidak dipenuhi secara matang.
Untuk itu, sebelum melakukan langkah-langkah strategis lain, yang mesti dilakukan oleh generasi muda islam adalah tertuju kepada realitas itu, bahwa harus ada pemetaan yang jelas dan akurat tentang realitas umat, baik realitas historisnya maupun realitas kekiniannya, dan dengan melakukan perbandingan-perbandingan sejarah, (yang kemudian) dari situlah kita bisa merumuskan agenda-agenda kebangkitan yang mesti kita tunaikan.
Salah satunya adalah dengan kemampuan ‘mendialogkan islam’ secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun. Dan peran ‘berani tampil’ ini merupakan langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata. Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama peradabannya.
Kita berharap, suatu saat dunia akan mencatat bahwa sebuah fenomena luar biasa yang terjadi di abad 21, pada saat globalisasi kapitalisme mulai runtuh, akan tumbuh sebuah peradaban yang diawali oleh membudayanya tradisi intelektual di kalangan umat islam, khusunya generasi mudanya yang diawali dari Uiniversitas Islam seperti UIN. Suatu saat sejarah akan mencatat, ‘Barat’ takut dan bahkan bertekuk lutut di hadapan peradaban Islam. Manusia dalam sejarah masa depan juga akan bertanya, apa penyebabnya? Maka sejarah akan memberikan jawaban dengan mengatakan ‘salah satu penyebabnya adalah ketegasan umat Islam dalam bersikap. Ketegasan sikap ini dibentuk oleh kultur intelektual yang ‘menjelajahi’ ruang-ruang pikiran umat Islam terutama mahasiswanya; generasi mudanya. Sehingga ketika mereka mengeluarkan sikap keumatan dalam konteks peradaban, itu dilakukan dengan mengambil intisari teori-teori keilmuan yang realistis dengan kebutuhan zamannya.
Yang jelas, kebangkitan umat Islam akan menjadi catatan sejarah dengan berbagai dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin. AllahuAkbar

Komentar
  1. Fan'z mengatakan:

    siyasi yang dibingkai tarbawi…
    ato kebalik y..???
    {^_^} v

  2. Deudeu mengatakan:

    menurut saya tulisan ini sangat bagus sekali, apalagi kalo dibaca oleh mahasiswa UIN yang lain. karena ini bisa menyadarkan mereka, sadar pada kampus mereka sendiri yang berlandaskan islam, tapi tidak mencirikan islam, dan ciri islam itu adalah simbol belaka…selamat untuk t’lida karena tulisannya amat bgus, dinanti tulisannya yang lain ya !!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s